Membaca Sya’ban dengan Hati: Antara Tradisi, Ilmu, dan Harmoni

Oleh: Prof. Dr. Hj Salamah Noorhidayati, M.Ag (Pengasuh Pesantren Subulussalam Tulungagung)
Dalam perjalanan akademik saya, ada semacam “kegelisahan” yang sering muncul: mengapa kajian hadis sering kali terasa seperti “manekin” yang indah namun tak bernapas? Seperti “mesin” yang tak bernyawa dan tak punya rasa, hanya bekerja mengolah data yang diinput; atau seperti “menara gading” yang berdiri tegak dengan kekuatan struktur keilmuan, tapi tidak pernah menyapa pemeluknya dan memberikan solusi atas problem riil yang dihadapinya
Kita terjebak dalam warisan cara pandang legalistik yang kaku—sebuah pola pikir kolonial yang memisahkan teks dari denyut nadi budaya; terperangkap pada makna literal tanpa mempertimbangkan aspek yang mengitari lahirnya hadis itu. Inilah alasan mengapa dekolonisasi ilmu hadis menjadi niscaya. Kita perlu memerdekakan hadis agar kembali menjadi living sunnah, panduan hidup yang menyentuh relung jiwa, bukan sekadar objek perdebatan otentisitas
Fenomena Nisfu Sya’ban saya hadirkan untuk sedikit menjelaskan apa yang saya maksud. Setiap kali datang bulan Sya’ban, setiap kali pula muncul pertanyaan dan perdebatan. Ada sisi kontroversi dan paradoks dari teori sampai praktik “malam Nisfu Sya’ban”. Di satu sisi, kita melihat hiruk-pikuk ritualitas, baik yang sifatnya personal maupun kolektif-masif di masjid-masjid. Dengan segala macam bentuknya, terkadang ritual tersebut terjebak pada angka dan formalisme. Di sisi lain, muncul kritik tajam terkait keabsahan ibadah dan dalil legalitasnya. Mereka sibuk mendebatkan “sunnah vs bid’ah” dan menakar “sahih atau tidaknya” hadis tanpa sempat melihat esensi amalan
Dalam konteks ini, saya ingin menghadirkan konsep Bid’ah Idhafiyah dari Imam asy-Syathibi sebagai pencerah. Beliau mengajarkan kita untuk melihat bahwa tradisi lokal—selama isinya adalah ajaran yang mempunyai dasar validitas seperti dzikir, doa, dan silaturahmi—harus dipandang sebagai wadah yang absah secara substansi, namun fleksibel secara teknis
Maka, alih-alih larut dalam keriuhan ritual yang mekanistik, mari kita isi ruang-ruang di bulan Sya’ban ini dengan praktik yang lebih bermakna dan “bernyawa”
1. Sya’ban adalah Waktunya “Audit Jiwa”. Jika ini adalah bulan diangkatnya amal, maka praktik terbaiknya adalah muhasabah. Alih-alih sibuk menghitung berapa rakaat yang sanggup kita tegakkan, mari hitung seberapa banyak hati yang telah kita lukai. Sya’ban adalah momen untuk memperbaiki diri sebelum memasuki gerbang Ramadhan
2. Melampaui Angka Menuju Rasa. Dzikir dan doa di malam Nisfu Sya’ban jangan hanya berhenti sebagai beban target hitungan. Mari geser dari ritual kuantitatif menuju kualitas kontemplasi. Satu tarikan napas istighfar yang lahir dari getaran penyesalan hati, jauh lebih berharga daripada ribuan ucapan lisan yang hampa rasa.
3. Membangun Harmoni, Merobohkan Ego. Inilah amanat QS. Asy-Syura: 13; menegakkan agama tanpa perpecahan. Ampunan Allah di bulan ini justru sering kali “terhijab” oleh pintu hati yang masih tertutup dendam (syahna’). Maka, sebelum menengadahkan tangan meminta maaf kepada-Nya, mari ringankan hati untuk saling memaafkan sesama. Ritual sejati adalah rekonsiliasi
4. Sya’ban sebagai “warming-up” Spiritual. Jadikan hari-hari ini sebagai masa transisi yang lembut. Mulailah menyicil puasa sunnah, menyapa Al-Qur’an lebih sering, dan memperhalus tutur kata. Sya’ban bukan satu-satunya waktu untuk sujud, tapi ia adalah pintu gerbang. Jika di pintu ini kita sudah terbiasa dengan “ibadah yang sadar”, maka di Ramadhan nanti kita tidak lagi menjadi “mesin” yang kaget dengan beban ibadah, melainkan jiwa yang sudah siap menari dalam pelukan kasih sayang-Nya
Mari memeluk tradisi dengan ilmu yang jernih, dan menghiasinya dengan ketulusan yang murni. Karena pada akhirnya, kita bukan manekin yang dipajang untuk dinilai manusia, melainkan hamba yang rindu akan pelukan kasih sayang Tuhan yang syahdu
Tulungagung,
esenha, 02.02.26
editor: adkha rahmanda
Komentar Terbaru