SEKILAS INFO
  • 5 tahun yang lalu / Selamat datang di website Pesantren Subulussalam Tulungagung
WAKTU :

Marhaban Yā Ramadan 1447 H

Terbit 18 Februari 2026 | Oleh : redaksi | Kategori : Generals

Pesantren Subulussalam Menyambut Bulan Penuh Berkah

Oleh: Abah Prof. Dr. KH. Ahmad Zainal Abidin, M.A (Pengasuh Pesantren Subulussalam Tulungagung)

Bismillāhirrahmānirrahīm.

Segala puji bagi Allah Swt. yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Dengan penuh rasa syukur dan haru, keluarga besar Pesantren Subulussalam menyampaikan ucapan Marhaban Yā Ramadan kepada seluruh wali santri, asatidz dan asatidzah, seluruh santri, alumni, serta kaum muslimin di Indonesia. Semoga kedatangan Ramadan tahun ini menjadi momentum kebaikan yang lebih bermakna dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ramadan selalu datang membawa cahaya. Namun kita menyadari, menyambutnya tidak selalu mudah. Ia datang di tengah kesibukan, kelelahan, tanggung jawab, dan berbagai persoalan hidup yang tak jarang menyita energi lahir dan batin. Tetapi justru di situlah makna ujian dan kemuliaannya.

Mari kita sambut Ramadan dengan semangat, meski terasa berat. Mari kita jalani dengan penuh harap, meski perjalanan tidak selalu mudah. Mari kita mengisinya dengan penuh keyakinan akan ampunan, meski tidak ada jaminan bahwa kita pasti diampuni. Mari kita beramal dengan harapan pahala, meski belum tentu diterima. Mari kita beribadah dengan penghayatan mendalam, meski banyak godaan. Mari kita melangkah dengan keikhlasan, meski gangguan datang silih berganti.

Ramadan adalah madrasah jiwa. Ia melatih kesabaran, ketekunan, dan ketundukan. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala yang melalaikan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan seorang hamba tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kemampuannya mengendalikan diri.

Kita meyakini bahwa tidak ada amal yang sia-sia di sisi Allah. Setiap langkah menuju masjid, mushola dan tempat sujud lainnya, setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca, setiap rupiah yang diinfakkan, setiap peluh yang jatuh dalam mencari ilmu, setiap niat baik yang terbersit dalam hati: semuanya bernilai. Tidak ada kebaikan yang hilang. Tidak ada pengorbanan yang terabaikan.

Amal saleh dapat dilakukan oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Tidak harus menunggu menjadi orang besar. Tidak harus menunggu menjadi sempurna. Ramadan mengajarkan bahwa kesempatan kebaikan terbuka luas bagi semua hamba.

Pesantren  Subulussalam mengajak seluruh wali santri, asatidz, dan para santri untuk menjadikan Ramadan sebagai kesempatan emas berlatih menjadi hamba yang bertakwa, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial.

Takwa bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga tentang tanggung jawab horizontal terhadap sesama manusia. Takwa tercermin dalam shalat yang khusyuk dan akhlak yang santun. Dalam puasa yang tertib dan lisan yang terjaga. Dalam tilawah yang rutin dan sikap yang jujur. Dalam zakat dan sedekah yang tulus serta kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.

Kunci dari semua ibadah itu adalah niat.

Shalat, puasa, zakat, infaq, sedekah, i’tikaf, membaca dan mengkaji Al-Qur’an, serta mencari ilmu, semuanya harus dilandasi satu kesadaran: memenuhi perintah Allah Swt. Kita beribadah bukan sekadar mengikuti tradisi, bukan pula demi pengakuan manusia, tetapi karena tunduk dan patuh kepada-Nya. Kita bersyukur karena masih diarahkan untuk menyembah, ruku’ sujud kepada-Nya. Setelah berusaha, kita menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Kita tidak pernah tahu apakah ibadah kita diterima. Kita tidak pernah bisa memastikan apakah puasa kita sempurna. Namun kita percaya bahwa Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin dengan niat yang lurus dan hati yang bersih.

Ramadan juga menjadi momen memperkuat ikatan antara pesantren dan wali santri. Pendidikan bukan hanya berlangsung di ruang kelas atau asrama, tetapi juga dalam doa orang tua, dalam dukungan keluarga, dan dalam kebersamaan umat. Kami mengajak para wali santri untuk terus mendoakan putra-putrinya agar istiqamah dalam belajar dan beribadah.

Kepada para asatidz dan asatidzah, Ramadan adalah kesempatan memperbarui niat dalam mendidik. Mengajar bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi menanamkan nilai dan keteladanan. Setiap huruf yang diajarkan, setiap nasihat yang disampaikan, setiap kesabaran dalam membimbing santri, semuanya adalah amal jariyah yang insya Allah terus mengalir.

Kepada para santri, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih disiplin, memperkuat hafalan, memperbanyak tilawah, membaca kitab dan sumber pengetahuan lain serta memperdalam pemahaman. Jadikan setiap detik di pesantren sebagai kesempatan memperbaiki diri. Jangan takut lelah, karena lelah di jalan Allah adalah kemuliaan.

Ramadan mengajarkan bahwa kesuksesan bukan hanya diukur dari hasil akhir, tetapi dari kesungguhan dalam proses. Kita mungkin belum menjadi hamba yang sempurna, tetapi kita bisa menjadi hamba yang terus berusaha.

Semoga Ramadan tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah. Semoga ia membersihkan hati kita dari kesombongan, iri, dan dengki. Semoga ia memperkuat persaudaraan dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

Akhirnya, keluarga besar Pesantren Subulussalam memohon doa agar Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan iman yang lebih kokoh.

Marhaban Yā Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 H. Semoga kita semua menjadi hamba yang bertakwa secara spiritual dan sosial.

editor: Adkha Rahmanda

SebelumnyaMembaca Sya’ban dengan Hati: Antara Tradisi, Ilmu, dan Harmoni

Berita Lainnya

0 Komentar