SEKILAS INFO
  • 5 tahun yang lalu / Selamat datang di website Pesantren Subulussalam Tulungagung
WAKTU :

Ziarah Tahunan Pesantren Subulussalam 2025: Menapak Jejak Wali, Meneguhkan Spirit Dakwah

Terbit 8 September 2025 | Oleh : redaksi | Kategori : Berita / Generals
Ziarah Tahunan Pesantren Subulussalam 2025: Menapak Jejak Wali, Meneguhkan Spirit Dakwah

Ziarah Tahunan Pesantren Subulussalam 2025: Menapak Jejak Wali, Meneguhkan Spirit Dakwah

6–7 Juli 2025
📍 Berbagai Situs Ziarah Wali di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Keluarga besar Pesantren Subulussalam kembali menggelar kegiatan tahunan ziarah wali pada 6–7 Juli 2025. Agenda ini telah menjadi salah satu momen penting dalam kalender spiritual pesantren, sebuah perjalanan penuh makna yang menyatukan nilai keislaman, sejarah, budaya, dan pendidikan.

Kegiatan dimulai dengan pemberangkatan rombongan santri, asatidz, dan pengurus pesantren dari halaman pesantren. Upacara keberangkatan dibuka dengan doa bersama, memohon keberkahan dan kelancaran perjalanan.

Dalam sambutannya, Abah Prof. Dr. H. Zainal Abidin, M.A., selaku Pengasuh Pesantren Subulussalam, menekankan bahwa ziarah wali bukan sekadar tradisi, tetapi sarana penyegaran ruhani sekaligus refleksi untuk melanjutkan perjuangan dakwah para wali. “Kita berziarah bukan sekadar menapaki makam para wali, tetapi meneguhkan hati untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam berdakwah dengan ketulusan, kearifan, dan cinta kasih,” tutur beliau.

Perjalanan dimulai malam hari dengan tujuan pertama Makam Sunan Kudus (Ja’far Shadiq). Di tempat ini, para peserta mengenang warisan beliau berupa Masjid Menara Kudus, simbol harmoni antara budaya Hindu-Buddha dan Islam.

Menjelang dini hari, rombongan menuju Kadilangu, Demak, untuk berziarah ke makam Sunan Kalijaga (Raden Said), tokoh dakwah kultural yang menggunakan seni, wayang, gamelan, dan suluk sebagai media penyebaran Islam. Filosofi beliau, memayu hayuning bawana, menjadi pengingat penting bagi para santri.

Perjalanan berlanjut ke makam Raden Patah, Sultan pertama Kesultanan Demak. Di lokasi ini rombongan melaksanakan sholat Subuh, beristirahat, sekaligus merenungi keteladanan beliau sebagai pemimpin yang visioner.

Sekitar pukul sembilan pagi, rombongan tiba di Gunung Pring, Muntilan, untuk berziarah ke makam Sunan Gunungpring (KH Raden Santri). Suasana sejuk dan tenang pegunungan menambah kekhusyukan doa di pusara seorang ulama yang ikhlas berdakwah di pedalaman.

Siang harinya, perjalanan dilanjutkan menuju makam Sunan Krapyak di Bantul, Yogyakarta. Para santri belajar bagaimana dakwah yang lembut dan membumi mampu menyentuh masyarakat luas.

Sebelum ziarah berakhir, rombongan menyempatkan diri untuk singgah di Malioboro, pusat budaya Yogyakarta. Kehadiran di tempat ini memberikan pengalaman sosial-budaya yang sarat nilai toleransi dan keberagaman.

Sebagai penutup, setelah sholat Isya, rombongan menuju Gunung Jabalkat, Klaten, untuk berziarah ke makam Sunan Tembayat (Ki Ageng Pandanaran II). Kisah hijrah beliau, dari seorang bupati menuju jalan spiritual, menjadi penutup yang sarat hikmah dan menyentuh hati seluruh peserta.

Kegiatan ziarah wali ini tidak hanya mempererat kebersamaan keluarga besar Pesantren Subulussalam, tetapi juga menghidupkan kembali spirit dakwah para wali. Semangat ketulusan, kearifan, dan cinta kasih yang diwariskan para wali diharapkan terus menyala di dalam jiwa santri sebagai bekal melanjutkan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.

SebelumnyaVideo Profil Prof. Dr. Hj. Salamah Noorhidayati, M.Ag. || "Senandung Pena Sang Juara"(Pengasuh Pesantren Subulussalam Tulungagung) SesudahnyaProgram Tahfiz Pesantren Subulussalam Awali Kegiatan Tahun Ajaran Baru

Berita Lainnya

0 Komentar