SEKILAS INFO
  • 6 tahun yang lalu / Selamat datang di website Pesantren Subulussalam Tulungagung
WAKTU :

“FUTUWWAH: DIMENSI SOSIAL TASAWUF”

Terbit 15 Juni 2026 | Oleh : redaksi | Kategori : Generals

Karya: Dr. Rizqa Ahmadi, Lc. MA

Reviewer: Tgk. Muhammad Nur, S.Ag

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga pada kesempatan ini saya dapat menyampaikan hasil review terhadap buku “Futuwwah: Dimensi Sosial Tasawuf karya Dr. Rizqa Ahmadi, Lc., M.A.

Dr. Rizqa Ahmadi, Lc., M.A. merupakan seorang akademisi, peneliti, dan pengajar yang memiliki konsentrasi keilmuan pada bidang Studi Hadis, Ilmu Hadis, dan Tasawuf. Beliau aktif sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Selain berkiprah di dunia akademik, beliau juga aktif sebagai Pengajar di Pondok Pesantren Subulussalam,Tulungagung. pondok pesantren ini merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam yang berperan dalam pembinaan keilmuan; Al-Qur’an, spiritualitas, Intelektual dan akhlak santri.

Salah satu ayat yang paling mencerminkan keseluruhan gagasan buku ini ialah, sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan.”

(QS. An-Nahl [16]: 90)

Ayat ini menjadi inti dari pembahasan buku karena konsep ihsan  merupakan ruh utama tasawuf. Penulis berusaha menunjukkan bahwa ihsan tidak hanya diwujudkan dalam hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan, tetapi juga harus tercermin dalam hubungan sosial, kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap penyandang disabilitas, tanggung jawab ekologis, serta sikap kesatria spiritual yang diwujudkan melalui konsep futuwwah. Terdapat Sebuah hadits yang sangat sesuai dengan pesan utama yang terkandung dalam buku ini ialah:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. al-Ṭabarānī)

Hadis tersebut menjadi representasi dari keseluruhan pesan penulis bahwa keberagamaan tidak berhenti pada ritual individual, melainkan harus melahirkan kebermanfaatan sosial yang nyata. Tasawuf dalam buku ini dipahami sebagai jalan spiritual yang menghasilkan kesalehan sosial.

1. Gambar Isi Buku

Buku Futuwwah: Tasawuf Sosial dalam Perspektif Kontemporer merupakan karya yang berupaya menghadirkan kembali ajaran tasawuf ke ruang sosial masyarakat modern. Penulis tidak memandang tasawuf sebagai praktik spiritual yang hanya berorientasi pada kesalehan individual, melainkan sebagai sumber nilai yang mampu menjawab berbagai persoalan kemanusiaan kontemporer. Melalui pembahasan tentang futuwwah, tasawuf sosial, psikologi tasawuf, disabilitas, ekologi, hingga warisan spiritual Nusantara, penulis menunjukkan bahwa tasawuf memiliki dimensi praksis yang dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial, tanggung jawab moral, keberanian memperjuangkan keadilan, serta penghormatan terhadap seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Buku ini menawarkan pembacaan baru bahwa spiritualitas Islam tidak boleh terlepas dari realitas kehidupan sosial yang terus berkembang.

2. Pendapat Objektif Terhadap Buku

Sebagai sebuah karya akademik populer, buku ini memiliki kekuatan dalam kemampuannya menghubungkan konsep-konsep tasawuf klasik dengan isu-isu aktual yang dihadapi masyarakat modern. Penulis berhasil menunjukkan bahwa ajaran tasawuf tidak kehilangan relevansinya meskipun lahir dalam konteks sejarah yang berbeda. Justru nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dari segi penokohan, buku ini bukan karya fiksi sehingga tidak menampilkan tokoh dalam bentuk karakter cerita. Akan tetapi, penulis menghadirkan sejumlah tokoh penting dalam sejarah tasawuf dan pemikiran Islam sebagai sumber argumentasi. Kehadiran para tokoh tersebut membantu pembaca memahami akar historis dan intelektual dari konsep yang dibahas.

Alur pembahasan disusun secara sistematis. Penulis memulai dari konsep-konsep dasar mengenai futuwwah dan tasawuf sosial, kemudian bergerak menuju isu-isu yang lebih spesifik seperti psikologi tasawuf, disabilitas, ekologi, dan warisan spiritual Nusantara. Susunan ini memudahkan pembaca mengikuti perkembangan gagasan secara bertahap.

Kemudian karakteristik utama buku ini adalah pendekatan integratif. Penulis tidak membatasi tasawuf hanya dalam ruang kajian keagamaan, tetapi juga menghubungkannya dengan disiplin ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, kajian lingkungan, dan studi disabilitas. Pendekatan semacam ini memberikan warna yang berbeda dibandingkan banyak buku tasawuf yang lebih fokus pada pembahasan spiritual individual.

Pemilihan judul Futuwwah:  Dimesi Sosial Tasawuf dapat dinilai tepat karena mampu merepresentasikan isi buku secara keseluruhan. Istilah futuwwah digunakan sebagai pintu masuk untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai kesatria spiritual dapat diterapkan dalam kehidupan sosial masa kini.

Mengenai cover, desain buku cukup menarik dan relevan dengan isi. Dominasi warna hijau memberikan nuansa religius sekaligus menenangkan. Ilustrasi figur manusia yang berjalan menuju cahaya menggambarkan perjalanan spiritual yang menjadi tema utama buku. Cover tersebut mampu mencerminkan perpaduan antara dimensi spiritual dan sosial yang menjadi fokus pembahasan.

Secara teknis, bahasa yang digunakan relatif mudah dipahami oleh pembaca umum maupun kalangan akademisi. Penulis berusaha menghindari penggunaan istilah yang terlalu rumit tanpa penjelasan yang memadai. Referensi yang digunakan juga menunjukkan adanya upaya untuk menghubungkan literatur klasik dan literatur kontemporer sehingga pembahasan terasa lebih kaya.

3. Nilai dan Gagasan Utama Buku

Sebagai reviewer, saya melihat terdapat empat gagasan besar yang menjadi kekuatan buku ini.

Pertama, buku ini menegaskan bahwa tasawuf tidak identik dengan sikap mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Sebaliknya, tasawuf harus melahirkan kepedulian terhadap masyarakat.

Kedua, konsep futuwwah diposisikan sebagai etika kesatria spiritual yang melahirkan keberanian moral, kejujuran, amanah, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ketiga, penulis berusaha memperluas cakupan kajian tasawuf dengan menghubungkannya pada isu-isu kontemporer seperti psikologi, disabilitas, dan ekologi. Langkah ini membuat tasawuf tampak lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Keempat, buku ini mengangkat kembali khazanah spiritual Nusantara sebagai bagian penting dari perkembangan pemikiran Islam. Pembahasan mengenai tradisi lokal menunjukkan bahwa nilai-nilai futuwwah telah mengalami proses adaptasi dan transformasi dalam budaya masyarakat Indonesia.

4. Rekomendasi Pembaca

Buku ini sangat layak dibaca oleh mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi, mahasiswa Studi Islam, dosen, peneliti, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap pengembangan spiritualitas Islam. Buku ini juga sangat relevan bagi para santri yang ada di pondok pesantren yang sedang menuntut ilmu. Oleh karena itu buku ini sangat menarik jika diskusikan di lingkungan pesantren, karena buku ini menghadirkan dimensi sosial tasawuf, dalam bentuk yang lebih kontekstual dan dekat dengan realitas sosial.

5. Kritik dan Saran Konstruktif

Buku ini memiliki kontribusi yang penting dalam pengembangan kajian tasawuf sosial di Indonesia. Meski demikian, beberapa bagian 13 sampai 16 masih kurang disajikan secara mendalam. Walaupun demikian, pembahasan mengenai tema ini masih memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh melalui penelitian lapangan yang lebih mendalam nanti kedepan nya. Misalnya, implementasi tasawuf sosial dalam komunitas pesantren, organisasi masyarakat Islam, atau gerakan lingkungan berbasis agama.

Secara keseluruhan, buku Futuwwah: Dimensi Sosial Tasawuf. Dengan demikian, kesimpulan akhir saya ialah:

“Tasawuf memiliki dimensi sosial yang inheren, dan konsep futuwwah merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai spiritual Islam yang mampu menjawab berbagai persoalan kemanusiaan kontemporer melalui penguatan etika, solidaritas sosial, kepedulian ekologis, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pembangunan peradaban yang berkeadaban.”

Terimakasih banyak atas kepercayaan nya kepada Ust.Riqza Ahmadi, yang telah memberikan saya kesempatan untuk memberikan komentar atas buku ini.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Editor : Adkha Rahmanda

SebelumnyaArafah: Menganyam Esensi Wukuf dalam Jiwa, Sejarah, dan Peradaban

Berita Lainnya

0 Komentar