Nyantri di Pesantren, Pentingkah bagi Mahasiswa?

Nyantri di Pesantren, Pentingkah bagi Mahasiswa?
Oleh:
Prof. Dr. K.H. Ahmad Zainal Abidin, M.A.
(Pengasuh Pesantren Subulussalam Tulungagung)
Di tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan tuntutan zaman digital, mahasiswa sering dihadapkan pada satu masalah klasik: waktu luang yang sia-sia. Banyak dari mereka menghabiskannya dengan scroll media sosial tanpa arah, nongkrong berjam-jam, atau aktivitas yang tidak memberi dampak berarti. Padahal, waktu luang bisa menjadi “ladang emas” untuk memperkuat diri—bukan hanya secara akademik, tetapi juga spiritual menuju masa menjadi pemegang masa depan.
Di sinilah tradisi nyantri di pesantren menemukan relevansinya. Nyantri bukan lagi monopoli anak-anak yang baru tamat sekolah menengah. Mahasiswa pun bisa merasakan manfaat besar dari hidup dan belajar di pesantren.

Nyantri: Cara Produktif Mengisi Waktu Luang
Di pesantren, ritme kehidupan sudah tertata. Ada jadwal shalat berjamaah, pengajian aneka kitab-diniyyah, belajar bahasa asing, literasi, baca Quran, shalawatan, khitobah, kepemimpinan, olahraga, hingga kegiatan sosial. Bagi mahasiswa, pola ini membuat mereka terbiasa mendisiplinkan diri. Waktu luang yang biasanya habis begitu saja, kini terisi dengan hal-hal yang bermanfaat.
Sebuah penelitian di IAIN Samarinda misalnya menunjukkan, mahasiswa yang aktif dalam kegiatan keagamaan pesantren memiliki motivasi beragama dan kematangan spiritual lebih tinggi dibanding mereka yang tidak (Taujihat, 2023). Artinya, nyantri benar-benar menjadi sarana efektif untuk mengasah kedisiplinan sekaligus memperkuat kepribadian.
Kampus memang tempat mahasiswa menimba sains, teknologi, ilmu sosial, atau humaniora. Tapi, ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting: bekal agama dan praktik ibadah yang konsisten. Pesantren memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari kiai dan ustaz, baik lewat kajian kitab klasik, kitab modern, maupun diskusi keislaman kontemporer. Lebih dari itu, mahasiswa dibiasakan menjalankan agama dalam keseharian: shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, menjaga adab, hingga hidup sederhana.
Tak heran, sebuah studi menyebutkan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga “media moderasi beragama” yang mengajarkan sikap toleran dan mengurangi potensi ekstremisme (Jurnal Pendidikan Agama, UIN Saizu, 2022).
Kuliah Sambil Ngaji: Kombinasi Ilmu dan Amal
Banyak pesantren kini membuka diri untuk mahasiswa. Modelnya fleksibel: mahasiswa tetap bisa kuliah di kampus, tetapi di malam hari mengikuti ngaji kitab atau kegiatan pesantren. Hasilnya? Mereka bukan hanya intelektual akademis, tapi juga memiliki fondasi moral yang kuat.
Penelitian menunjukkan bagaimana pesantren menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan zaman, sembari menjaga inti keilmuan Islam (Studia Pesantren, 2023). Inilah bentuk harmoni antara kuliah dan ngaji, antara ilmu dan amal.
Masih ada yang sinis, menyebut pesantren sebagai lembaga yang membuat umat “bodoh dan tertinggal”. Tuduhan ini jelas tidak berdasar. Mengapa? Sejarah membuktikan: ribuan bahkan ratusan ribu tokoh besar lahir dari pesantren. KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), hingga Gus Dur, untuk mengambil sedikit sampel, semuanya lahir dari tradisi pesantren. Bahkan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin pernah menegaskan, “Sudah banyak sekali kiai yang dihasilkan pesantren ini. Para kiai itu kemudian mendirikan pesantren baru di berbagai daerah” (Antara, 2024). Ini bukti nyata bahwa pesantren justru mencetak kader yang menyebarkan ilmu ke seluruh penjuru negeri.
Lebih jauh, riset Wawan Wahyuddin (IAIN Banten, 2016) menegaskan: pesantren memiliki kontribusi besar, bukan hanya bagi Islam, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Dengan pola hidup sederhana, kemandirian, kedisiplinan, akhlak mulia, pengalaman hidup, mereka tidak hanya akan mampu menjalani hidup dalam segala susasana namun juga mampu mengisinya dengan persiapan yang lebih baik. Ngaji bisa, kerja bisa; kaya bisa, hidup sederhana bisa; teori tahu, praktek sudah biasa; memimpin siap, dipimpin mau.
Penutup: Pesantren, Ladang Subur Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa, nyantri bukan sekadar belajar agama, tetapi juga belajar hidup: bagaimana memanfaatkan waktu, membiasakan ibadah, menjaga adab, hingga melatih kedisiplinan. Kuliah sambil ngaji bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak. Stigma bahwa pesantren adalah penyebab keterbelakangan sudah saatnya ditinggalkan. Pesantren justru telah membuktikan diri sebagai kawah candradimuka lahirnya tokoh-tokoh besar bangsa.
Komentar Terbaru